Web Mahasiswa

Berpacu menjadi yang terbaik

teori kebenaran

24 August 2013 - dalam Umum Oleh kristin-natallia-feb12

A. Pengertian Kebenaran

 

Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai yang

menjadi fungsi rohani manusia. Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha “memeluk” suatu kebenaran.Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak bias dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.Kriteria ilmiah darisuatu ilmu memang tidak dapat menjelaskan fakta dan realitas yang ada. Apalagi terhadap fakta dan kenyataan yang berada dalam lingkup religi ataupun yang metafisika dan mistik, ataupun yang non ilmiah lainnya. Di sinilah perlunya pengembangan sikap dan kepribadian yang mampu meletakkan manusia dalam dunianya. Penegasan di atas dapat kita pahami karena apa yang disebut ilmu pengetahuan diletakkan dengan ukuran, pertama, pada dimensi fenomenalnya yaitu bahwa ilmu pengetahuan menampakkan diri sebagai masyarakat, sebagai proses dan sebagai produk. Kedua, pada dimensi strukturalnya, yaitu bahwa ilmu pengetahuan harus terstruktur atas komponen-komponen, obyek sasaran yang hendak diteliti (begenstand), yang diteliti atau dipertanyakan tanpa mengenal titik henti atas dasar motif dan tata cara tertentu, sedang hasil-hasil temuannya diletakkan dalam satu kesatuan system.Tampaknya anggapan yang kurang tepat mengenai apa yang disebut ilmiah telah mengakibatkan pandangan yang salah terhadap kebenaran ilmiah dan fungsinya bagi kehidupan manusia. Ilmiah atau tidak ilmiah kemudian dipergunakan orang untuk menolak atau menerima suatu produk pemikiran manusia. Maksud dari hidup ini adalah untuk mencari kebenaran. Tentang kebenaran ini, Plato pernah berkata: “Apakah kebenaran itu? lalu pada waktu yang tak bersamaan, bahkan jauh belakangan Bradley menjawab; “Kebenaran itu adalah kenyataan”, tetapi bukanlah kenyataan (dos sollen) itu tidak selalu yang seharusnya (dos sein) terjadi. Kenyataan yang terjadi bisa saja berbentuk ketidak benaran (keburukan). Dalam bahasan, makna “kebenaran” dibatasi pada kekhususan makna “kebenaran keilmuan (ilmiah)”. Kebenaran ini mutlak dan tidak sama atau pun langgeng, melainkan bersifat nisbi (relatif), sementara (tentatif) dan hanya merupakan pendekatan. Kebenaran intelektual yang adapada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan. Kebenaran merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral, tak bermuara, dapat melunturkan pengertian kebenaran sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran.Selaras dengan Poedjawiyatna yang mengatakan bahwa persesuaian antara pengatahuan dan obyeknya itulah yang disebut kebenaran. Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui.Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif. Meskipun demikian, apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran mungkin suatu saat akan hanya pendekatan kasar saja darisuatu kebenaran yang lebih jati lagi dan demikian seterusnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan manusia yang transenden,dengan kata lain, keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Dari sini terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang trasenden, artinya tidak henti dari kebenaran itu terdapat diluar jangkauan manusia. Kebenaran dapat dikelompokkan dalam tiga makna: kebenaran moral, kebenaran logis,dan kebenaran metafisik. Kebenaran moral menjadi bahasan etika, ia menunjukkan hubungan antara yang kita nyatakan dengan apa yang kita rasakan. Kebenaran logis menjadi bahasan epistemologi, logika, dan psikologi, ia merupakan hubungan antara pernyataan dengan realitas objektif. Kebenaran metafisik berkaitan dengan yang-ada sejauh berhadapan dengan akalbudi, karena yang ada mengungkapkan diri kepada akal budi. Yang ada merupakan dasar dari kebenaran, dan akalbudi yang menyatakannya.

 

 

 

 

 

B. Jenis-Jenis Teori Kebenaran

 

1. Teori Kebenaran Korespondensi (Teori persesuaian)

Ujian kebenaran yang dinamakan teori korespondensi adalah paling diterima secara luas

oleh kelompok realis. Menurut teori ini, kebenaran adalah kesetiaan kepada realita obyektif (fidelity to objective reality). Kebenaran adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri, atau antara pertimbangan (judgement) dan situasi yang pertimbangan itu berusaha untuk melukiskan, karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu. Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan obyek yang dituju oleh pernyataan tersebut. Misalnya jika seorang mahasiswa mengatakan “kota Yogyakarta terletak di pulau Jawa” maka pernyataan itu adalah

benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faktual, yakni kota Yogyakarta memang benar-benar berada di pulau Jawa. Sekiranya orang lain yang mengatakan bahwa “kota Yogyakarta berada di pulau Sumatra” maka pernnyataan itu adalah tidak benar sebab tidak terdapat obyek yang sesuai dengan pernyataan terebut. Dalam hal ini maka secara faktual “kota Yogyakarta bukan berada di pulau Sumatra melainkan di pulau Jawa”.

Menurut teori koresponden, ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai hubungan

langsung terhadap kebenaran atau kekeliruan, oleh karena atau kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yag sudah ditetapkan atau diingkari. Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta, maka pertimbangan ini benar, jika tidak, maka pertimbangan itu salah.

Dengan ini Aristoteles sudah meletakkan dasar bagi teori kebenaran sebagai persesuaian

bahwa kebenaran adalah persesuaian antara apa yang dikatakan dengan kenyataan. Jadi suatau pernyataan dianggap benar jika apa yang dinyatakan memiliki keterkaitan (correspondence) dengankenyataanyangdiungkapkandalampernyataanitu. Menurut teori ini,kebenaran adalah soal kesesuaian antara apa yang diklaim sebagai diketahui dengan kenyataan yang sebenarnya. Benar dan salah adalah soal sesuai tidaknya apa yang dikatakan dengan kenyataan sebagaimana adanya. Atau dapat pula dikatakan bahwa

kebenaranterletakpadakesesuaianantarasubjekdanobjek,yaituapayangdiketahuisubjekdan

realitassebagaimanaadanya.Kebenaransebagaipersesuaianjugadisebutsebagaikebenaran

empiris,karenakebenaransuatupernyataanproposisi,atauteori,ditentukanolehapakah pernyataan,proposisiatauteorididukungfaktaatautidak. Suatuide ,konsep, atau teori yang benar,harus mengungkapkan relaitas yang sebenarnya. Kebenaran terjadi pada pengetahuan. Pengetahuanterbuktibenardanmenjadibenaroleh

kenyataanyangsesuaidenganapayangdiungkapkanpengetahuanitu.Olehkarenaitu,bagiteori

ini,mengungkapkanrealitasadalahhalyangpokokbagikegiatanilmiah.Dalammengungkapkan

realitasitu,kebenaranakanmunculdengansendirinyaketikaapayangdinyatakansebagaibenar

memangsesuaidengankenyataan.Masalahkebenaranmenurutteoriinihanyalah perbandinganantararealitaoyek(informasi,fakta,peristiwa,pendapat)denganapayang ditangkapolehsubjek(ide,kesan).Jikaideataukesanyangdihayatisubjek(pribadi)sesuaidengan kenyataan,realita,objek,makasesuatuitubenar.Teorikorespodensi(corespondencetheory oftruth),menerangkanbahwakebenaranatausesuatukedaanbenarituterbuktibenarbilaada kesesuaianantaraartiyangdimaksudsuatupernyataanataupendapatdenganobjekyang dituju/dimaksudolehpernyataanataupendapattersebut.Kebenaranadalahkesesuaian pernyataandenganfakta,yang berselarandenganrealitasyangserasidengansitasiaktual.Dengandemikianadalimaunsur yangperluyaitu:

  • Statemaent(pernyataan)
  • Persesuaian(agreemant)
  • Situasi(situation)
  • Kenyataan(realitas)
  • Putusan(judgements)

Kebenaranadalahfidelitytoobjektivereality(kesesuaianpikirandengankenyataan).

2. Teori Kebenaran Konsistensi/Koherensi (teoriketeguhan)

Berdasarkanteoriinisuatupernyataandianggapbenarbilapernyataanitubersifat

koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya yang dianggap

benar.[21]Artinyapertimbanganadalahbenarjikapertimbanganitubersifatkonsistendengan

pertimbanganlainyangtelahditerimakebenarannya,yaituyangkoherenmenurutlogika.Misalnya,

bilakitamenganggapbahwa“semuamanusiapastiakanmati”adalahsuatupernyataanyangbenar,

makapernyataanbahwa“siHasanseorangmanusiadansiHasanpastiakanmati”adalahbenar

pula,sebabpernyataankeduaadalahkonsistendenganpernyataanyangpertama.

Salahsatukesulitandansekaliguskeberatanatasteoriiniadalahbahwakarena

kebenaransuatupernyataandidasarkanpadakaitanataukesesuaiannyadenganpernyataanlain,

timbulpertanyaanbagaimanadengankebenaranpernyataantadi?Jawabannya,kebenarannya

ditentukanberdasarkanfaktaapakahpernyataantersebutsesuaidansejalandenganpernyataan

yanglain.Haliniakanberlangsungterussehinggaakanterjadigerakmundurtanpahenti(infinite

regress)atauakanterjadigerakputartanpahenti.

Karenaitu,kendatitidakbisadibantahbahwateorikebenaransebagaiketeguhanini

penting,dalamkenyataanperludigabungkandenganteorikebenaransebagaikesesuaiandengan

realitas.Dalamsituasitertentukitatidakselaluperlumengecekapakahsuatupernyataanadalah

benar,denganmerujuknyapadarealitas.Kitacukupmengandaikannyasebagaibenarsecara

apriori,tetapi,dalamsituasilainnya,kitatetapperlumerujukpadarealitasuntukbisamenguji

kebenaranpernyataantersebut.[22]

Kelompokidealis,sepertiPlatojugafilosof-filosofmodernsepertiHegel,Bradleydan

Roycememperluasprinsipkoherensisehinggameliputidunia;denganbegitumakatiap-tiap

pertimbanganyangbenardantiap-tiapsistemkebenaranyangparsialbersifatterusmenerusdengan

keseluruhanrealitasdanmemperolahartidarikeseluruhantersebut.[23]Meskipundemikianperlu

lebihdinyatakandenganreferensikepadakonsistensifaktual,yaknipersetujuanantarasuatu

perkembangandansuatusituasilingkungantertentu.

3. Teori Pragmatik

TeoripragmatikdicetuskanolehCharlesS.Peirce(1839-1914)dalamsebuahmakalahyangterbitpadatahun1878yangberjudul“HowtoMakeIdealsClear”.Teoriinikemudian

dikembangkanolehbeberapaahlifilsafatyangkebanyakanadalahberkebangsaanAmerikayang

menyebabkanfilsafatiniseringdikaitkandenganfilsafatAmerika.Ahli-ahlifilasafatinidiantaranya

adalahWilliamJames(1842-1910),JohnDewey(1859-1952),GeorgeHobartMead(1863-

1931)danC.I.Lewis.

Pragmatismemenantangsegalaotoritanianisme,intelektualismedanrasionalisme.Bagi

merekaujiankebenaranadalahmanfaat(utility),kemungkinandikerjakan(workability)atauakibat

yangmemuaskan,Sehinggadapatdikatakanbahwapragmatismeadalahsuatualiranyang

mengajarkanbahwayangbenarialahapayangmembuktikandirinyasebagaibenardengan

perantaraanakibat-akibatnyayangbermanfaatsecarapraktis.Peganganpragmatisadalahlogika

pengamatandimanakebenaranitumembawamanfaatbagihiduppraktisdalam kehidupan

manusia.

Olehkarenateori-teorikebenaran(koresponden,koherensi,danpragmatisme)itulebih

bersifatsalingmenyempurnakandaripadasalingbertentangan,makateoritersebutdapat

digabungkandalamsuatudefinisitentangkebenaran.

Menurutteoripragmatis,“kebenaransuatupernyataandiukurdengankriteriaapakah

pernyataantersebutbersifatfungsionaldalamkehidupanpraktis.Artinya,suatupernyataanadalah

benar,jikapernyataanituataukonsekuensidaripernyataanitumempunyaikegunaanpraktisbagi

kehidupanmanusia kebenarannya tergantung pada manfaat dan akibatnya. Akibat/ hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah :

o Sesuai dengan keinginan dan tujuan

o Sesuai dengan teruji dengan suatu eksperimen

o Ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis (ada).

 

 

C. Sifat kebenaran ilmu

 

1. Evolusionisme

Suatu teori adalah tidak pernah benar dalam pengertian sempurna, paling bagus hanya

berusaha menuju ke kebenaran. Thomas Kuhn berpandangan bahwa kemajuan ilmu tidaklah bergerak menuju ke kebenaran, jadi hanya berkembang. Sejalan dengan itu Pranarka melihat ilmu selalu dalam proses evolusi apakah berkembang ke arah kemajuan ataukah kemunduran, karena ilmu merupakan hasil aktivitas manusia yang selalu berkembang dari jaman ke jaman.[34] Kebenaran ilmu walau diperoleh secara konsensus namun memiliki sifat universal sejauh kebenaran ilmu itu dapat dipertahankan. Sifat keuniversalan ilmu masih dapat dibatasi oleh penemuan-penemuan baru atau penemuan lain yang hasilnya menggugurkan penemuan terdahulu atau bertentangan sama sekali, sehingga memerlukan penelitian lebih mendalam . Jika hasilnya berbeda dari kebenaran lama maka maka harus diganti oleh penemuan baru atau kedua-duanya berjalan bersama dengan kekuatannya atas kebenaran masing-masing. Ilmu sekarang lebih mendekati kebenaran daripada ilmu pada jaman Pertengahan, dan ilmu pada abad duapuluh akan lebih mendekati kebenaran daripada abad sebelumnya. Hal tersebut tidak seperti ilmu pada jaman Babilonia yang dulunya benar namun sekarang salah, ilmu kita (kealaman) benar untuk sekarang dan akan salah untuk seribu tahun kemudian, tapi kita mendekati

kebenaran lebih dekat.

 

2. FalsifikasionisPopper dalam memecahkan tujuan ilmu sebagai pencarian kebenaran ia berpendapat bahwa ilmu tidak pernah mencapai kebenaran, paling jauh ilmu hanya berusaha mendekat ke kebenaran (verisimilitude). Menurutnya teori-teori lama yang telah diganti adalah salah bila dilihat dari teori-teori yang berlaku sekarang atau mungkin kedua-duanya salah, sedangkan kita tidak pernah mengetahui apakah teori sekarang itu benar. Yang ada hanyalah teori sekarang lebih superior dibanding dengan teori yang telah digantinya. Namun verisimilitude tidak sama dengan probabilitas, karena probabilitas merupakan konsep tentang menedekati kepastian lewat suatu pengurangan gradual isi informatif. Sebaliknya, verisimilitude merupakan konsep tentang mendekati kebenaran yang komprehensif. Jadi verisimilitude menggabungkan kebenaran dengan isi, sementara

probabilitas menggabungkan kebenaran dengan kekurangan isi. Tesis utama Popper ialah bahwa kita tidak pernah bisa membenarkan (justify) suatu teori. Tetapi terkadang kita bisa “membenarkan”(dalam arti lain) pemilihan kita atas suatu teori, dengan mempertimbangkan kenyataan bahwa teori tersebut sampai kini bisa bertahan terhadap kritik lebih

tangguh daripada teorisaingannya Taryadi, 1989: 75).

 

3. Relativisme

Relativisme berpandangan bahwa bobot suatu teori harus dinilai relative dilihat dari

penilaian individual atau grup yang memandangnya. Feyerabend memandang ilmu sebagai sarana suatu masyarakat mempertahankan diri, oleh karena itu kriteria kebenaran ilmu antar masyarakat juga bervariasi karena setiap masyarakat punya kebebasan untuk menentukan criteria kebenarannya. Pragmatisme tergolong dalam pandangan relativis karena menganggap kebenaran merupakan proses penyesuaian manusia terhadap lingkungan. Karena setiap kebenaran bersifat praktis maka tiada kebenaran yang bersifat mutlak, berlaku umum, bersifat tetap, berdiri sendiri, sebab pengalaman berjalan terus dan segala sesuatu yang dianggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya.

 

4. Objektivisme

Apa yang diartikan sebagai “benar” ketika kita mengklain suatu pernyataan adalah

sebagaimana yang Aristoteles artikan yaitu ”sesuai dengan keadaan“: pernyataan benar adalah “representasi atas objek” atau cermin atas itu ). Tarski menekankan teori kebenaran korespondensi sebagai landasan objektivitas ilmu, karena suatu teori dituntut untuk memenuhi kesesuaian antara pernyataan dengan fakta. Teori kebenaran yang diselamatkan Tarski merupakan suatu teori yang memandang kebenaran bersifat “objektif”, karena pernyataan yang benar melebihi dari sekedar pengalaman yang bersifat subjektif. Ia juga “absolut” karena tidak relatif terhadap suatu anggapan atau kepercayaan. Objektivisme menyingkirkan individu-individu dan penilaian para individu yang memegang

peranan penting di dalam analisa-analisa tentang pengetahuan, objektivisme lebih bertumpu pada objek daripada subjek dalam mengembangkan ilmu. Bila teori ilmiah benar dalam arti

sesungguhnya, yaitu bersesuaian secara pasti dengan keadaan, maka tidak ada tempat bagi interpretasi ketidaksetujuan, beberapa ilmuwan percaya bahwa teori-teori mewakili gunung kebenaran. Roger berpendapat bahwa teori-teori selalu merupakan imajinasi dari konstruksi mental, dikuatkan oleh persetujuan antara fakta observasi dan peramalan atas implikasi. Kelemahan kebenaran merupakan kesesuaian dengan keadaan adalah mereka merupakan penyederhanaan dan pengabstraksian dari hubungan antara fakta-faktadan kejadian-kejadianyang digabungkan dengan unsur persetujuan.

 

D. Perbedaan sifat kebenaran ilmiah dan non ilmiah

 

Teori Kebenaran Ilmiah

  • Kebenaran Koherensi
  • Kebenaran korespondensi
  • Kebenaran Positivisme
  • Kebenaran Esensialisme
  • Kebenaran konstruktivisme
  • Kebenaran Religiusisme
  • Kebenaran pragmatis

 

Teori Kebenaran Non Ilmiah

  • Berdasarkan sifat dasarnya
  • Berdasarkan cara mendapatkan kebenaran
  • Berdasarkan cara pengambilan kesimpulan


Read More | Respon : 0 komentar

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :